Dunia Lagi Goyang, Tapi Kita Nggak Harus Ikut Terlalu Panik

Oleh: George Muhammad

Beberapa waktu terakhir, isu krisis energi mulai sering muncul. Harga bahan bakar naik, distribusi terganggu, dan konflik di berbagai belahan dunia ikut memperkeruh keadaan. Kita mulai mendengar lagi kekhawatiran soal pasokan energi, ketahanan pangan, sampai efek domino ke kehidupan sehari-hari.

Beberapa laporan bahkan menyebut bagaimana konflik di Timur Tengah bisa berdampak ke jalur distribusi minyak global dan memicu kenaikan harga energi yang berujung pada naiknya harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya (IEA, 2026).

Di titik ini, kita jadi sadar satu hal yang jarang kita pikirkan sebelumnya:

betapa banyak hal dalam hidup kita bergantung pada sesuatu yang sebenarnya tidak kita kontrol.

Listrik yang selalu tersedia, bahan bakar yang mudah didapat, makanan yang tinggal dibeli,semuanya terasa normal, sampai suatu saat ada gangguan kecil yang membuat semuanya terasa goyah.

Dan mungkin yang membuat kita cemas bukan semata karena krisisnya, tapi karena kita menyadari bahwa kehidupan yang kita anggap stabil… ternyata sangat rapuh.

Padahal kalau kita tarik sedikit ke belakang, ada masa di mana manusia hidup tanpa listrik, tanpa bahan bakar, bahkan tanpa sistem distribusi modern seperti sekarang.

Atau dalam istilah sederhananya: “manusia versi original.”

Mereka makan dari apa yang ada di sekitar: kebun, ladang, hutan. Hidup dengan ritme yang lebih sederhana, tanpa terlalu banyak ketergantungan pada sistem besar yang kompleks. Tidak selalu mudah, tentu. Tapi mereka bertahan.

Memang, membandingkan masa sekarang dengan masa lalu mungkin terasa terlalu jauh, bahkan sulit dibayangkan. Dunia sudah berubah, kebutuhan juga berkembang. Tapi setidaknya ada satu hal yang bisa kita tarik:

pada dasarnya, manusia itu tidak butuh sebanyak yang kita kira untuk bisa hidup.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan kecukupan hidup secara sangat sederhana: seseorang yang memiliki tempat tinggal, makanan untuk hari itu, dan rasa aman, maka seakan-akan dunia telah diberikan kepadanya.

Dari ’Ubaidillah bin  Mihshan  Al Anshary dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).

Mungkin kita tidak hidup di zaman yang sama. Tapi esensinya masih relevan:
yang berubah bukan hanya dunia, tapi juga standar “cukup” dalam diri kita.


Kalau dipikir-pikir, mungkin yang membuat kita panik bukan karena dunia benar-benar akan berhenti. Tapi karena kita sudah terlalu terbiasa hidup dalam kemudahan.

Segalanya tinggal ada. Tinggal beli. Tinggal pakai. Kita jarang benar-benar memikirkan dari mana asalnya, bagaimana prosesnya, dan seberapa rentan semua itu bisa terganggu.

Dan ketika sedikit saja ada gangguan, kita langsung merasa tidak siap. Di titik ini, mungkin masalah utamanya bukan semata krisis energi itu sendiri. Tapi ketergantungan kita.

Ketergantungan pada sistem yang besar, kompleks, dan jauh dari kendali kita. Ketergantungan yang pelan-pelan membuat kita kehilangan kemampuan untuk berdiri lebih mandiri, meski hanya dalam hal-hal sederhana.

Sehingga ketika dunia mulai goyah, yang ikut goyah bukan hanya sistemnya, tapi juga rasa aman dalam diri kita.

Mungkin benar,
krisis ini bukan tentang kekurangan energi, tapi tentang betapa kita sudah kehilangan kemandirian.

Dan yang berubah bukan hanya dunia,
tapi juga cara kita bergantung padanya.

Tentu, ini bukan berarti krisis ini sepele.

Dampaknya nyata. Harga bisa naik, akses bisa terbatas, dan banyak hal mungkin terasa lebih sulit dari biasanya. Tapi di saat yang sama, ini juga bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan. Toh, ini di luar kendali kita, hal yang mungkin isa kendalikan ya: berhemat, makin membiasakan diri beradaptasi, dan kalau memungkinkan ya mulai membangun kemandirian, minimal pangan, di lingkungan kita.

Mungkin kita tidak bisa mengontrol situasi global. Tapi kita masih bisa mengatur bagaimana kita meresponsnya.

Mungkin dari sini kita bisa belajar satu hal kecil:
bahwa hidup tidak selalu tentang memastikan semuanya aman,
tapi tentang belajar untuk tetap tenang, dan bersandar, bahkan ketika tidak semuanya berada dalam kendali kita.


Daftar PUstaka:
– International Energy Agency. (2026). The Middle East and Global Energy Markets. https://www.iea.org/topics/the-middle-east-and-global-energy-markets.
– At-Tirmidzi. Jami’ at-Tirmidzi, no. 2346.. Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah, no. 4141.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *